Hikayat Bapak dan Panen Ikan

Pagi itu tambak kecil bapakku sedang memeprsiapkan panen ikan. Antusias, sebagai bocah 7 tahunan (lupa tepatnya, usia SD) aku sangat ingin tau what is’t look like acara panen ikan di tambak itu. Bapak dan beberapa tetangga yang diajak membantu sudah berangkat ke tambak. Ditilep, aku masih dirumah tanpa tahu kapan bapak berangkat. Tapi aku pengen tau, aku pengen kesana.

Untunglah saat itu cak Minun, tetangga 2 rumah sebelah kiri masih belum berangkat. ditawarkannya tumpangan ke tambak. Yay.. Happy.. akupun ikut berangkat ke tambak.Bayangan menangkap ikan, main lumpur, dan mandi di kalen (saluran irigasi) sudah tergambar nyata.

Sampai di tambak, bapak melihat aku datang dan langsung murka. Semurka murkanya. terlihat jelas bahwa kehadiranku di tambak sangat tidak diharapkan oleh bapak. Well, dari kecil aku dididik cukup keras oleh bapakku. sebuah cara mendidik yang tidak dilakukan ke kedua adikku. Masih murka, bapakku mengambil batang bambu kecil bekas rumpon yang ada di dekatnya. Habis aku dimarahi, dan betisku harus menjadi sasaran “seblakan” (baca: cambukan) bapak. Diantarkannya aku pulang. Nangis? Pasti. Sakit fisik sakit hati ketika itu. Siro kecil ketika itu sangat tidak paham apa maksud kemarahan bapak yang tiba-tiba itu.

Baru bertahun-tahun setelahnya, ketika aku mulai bisa berpikir, barulah aku tau maksud dari semua itu. Bapak yang hampir seumur hidupnya dihabiskan di dunia nelayan-tani-tambak sangat tidak menginginkan aku menjadi seperti dia. Ya, by default tentu orang tua ingin anaknya menjadi lebih baik dari dirinya. Ingin anaknya hidup lebih enak darinya. Rela melakukan apapun untuk kemajuan anak-anaknya, dan tidak ingin anaknya mengalami hal kurang enak yang harus dia lakukan.

Memang tidak seterusnya bapak melarang aku ikut ke tambak. Sekali dua bapak mengajak serta aku ke tambak. memberi makan ikan, “raga” (mengecek ukuran udah dengan cara mengambil udang dari dalam tambak dengan meraba-raba adakah udang yang tertangkap) windu, dan menjala. Ya, saya yang saat ini seorang engineer radio ini bisa menjala ikan. believe it or not. Tapi, bukankah bapak tidak ingin aku seperti dia? Lalu kenapa aku diajari njala ikan, raga, dan another tambak-ing stuff ini?

Ya, ini ibarat mau berperang. Ketika perang sudah menggunakan kekuatan teknologi canggih, maka anda akan menjadi ahli perang dan dapat mengoperasaikan senjata canggih itu. Tapi kemampuan bertahan hidup dapam perang harus dimiliki. Bahkan ketika harus berperang dengan tangan kosong. Dapat gambarannya kan? bapak ingin saya menjadi orang yang lebih menguasai banyak pengetahuan dari dia, namun dia tidak akan membiarkan saya hidup tanpa kemampuan-kemampuan dasar yang diperlukan jika saya harus menghadapi kondisi keras.

Bapak memang berbeda dengan ibu saya yang selalu memberikan kasih sayang dengan kelemahlembutannya. Bapak memberikan kasih sayangnya dengan cara yang berbeda. Cara mendidik seorang ksatria.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *