Hujan Beneran di bulan Juni

HUJAN BULAN JUNI

tak ada yang lebih tabah
dari hujan bulan juni
dirahasiakannya rintik rindunya
kepada pohon berbunga itu

tak ada yang lebih bijak
dari hujan bulan juni
dihapusnya jejak-jejak kakinya
yang ragu-ragu di jalan itu

tak ada yang lebih arif
dari hujan bulan juni
dibiarkannya yang tak terucapkan
diserap akar pohon bunga itu

———-

Ah, itu dulu, pak Supardi. sekarang bulan Juni juga masih hujan. Sejak adanya facebook, sosial media lain, dan teknologi, hujan tidak setabah dulu. Jika dulu hujan mampu menahan kerinduannya pada pohon berbunga itu, kini hujan jadi mudah galau. Sedikit kangen si pohon aja sms. Sms gak dibales di message di facebook. Kalo gak ya di mention di twitter. “Akoe Cayank Kamoe..” “Aqu k4ng3n taukkkk #galau”.

Pak supardi, saat ini tak ada lagi kebijakan. Bahkan pemimpin negara ini saja dengan mudahnya mempertontonkan jejak keraguannya kepada rakyat. Mempertontonkan kegalauannya kepada halayak. Bahkan membuat galau orang menjadi profesi menjanjikan dan banyak diminati.

Arif, pak supardi. Hanya menjadi nama dari teman-teman saya. Bahkan kelak jika saya punya anak dan ditanya “Contoh orang arif itu siapa?” sama anak saya, mungkin saya bingung mencari tokoh hidup saat itu. Tak ada yang dibiarkan tak terucap, tak ada yang dibiarkan diserap oleh kami akar pohon bunga. Semua curahan hatinya dikicaukan, semua keresahannya dijadikan lirik, bahkan sampai menjadi 4 album.

Pak Supardi, kini hujan telah datang di bulan Juni. Bahkan kau lihat? sayapun tidak cukup tabah, bijak, dan arif untuk menahan diri dan tidak menuliskan ini di blog saya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *