Mengajar, Ternyata tidak mudah

confusius

What I hear, I forget
(Apa yang saya dengar, saya lupa)
What I see, I remember
(Apa yang saya lihat, saya ingat)
What I do, I understand
(Apa yang saya lakukan, saya paham)

Dan disempurnakan dengan:
What I teach to another, I master
(Apa yang saya ajarkan pada orang lain, saya kuasai)

Dulu, ya tidak terlalu dulu. Beberapa waktu lalu yang tidak terlalu lama. Saya sempat berpikir bahwa menjadi pengajar itu profesi yang relatif enak. Ya, hanya perlu santai di kelas, menyampaikan materi yang telah disampaikan bertahun-tahun dan diulang lagi, ngasih PR, dan selesai. Tapi kenyataannya tidak semudah itu. Mengajar yang dilakukan dengan hati ternyata menuntut energi lebih. Apalagi jika yang diajar memiliki antusiasme yang bagus sehingga meminta waktu extra untuk belajar di luar jam belajar reguler. Ya, butuh energi extra.

Beberapa bulan terakhir saya mengajar Cisco Networking Academy di lab saya. Lab jaringan Telekomunikasi Elektro ITS. Bukan, saya bukan dosen. Saya masih mahasiswa, kebetulan saja diberi amanah untuk mengajar di academy. Pengalaman mengajar ini memberi banyak masukan buat saya bahwa mengajar itu tidak semudah ongkang-ongkang kaki. Mengajar itu menyangkut mood, perofrmance, dan dedikasi. Contohnya aja ini ya, pernah suatu ketika saya sudah hampir dua minggu gak ketemu si manyun. Terus kami lagi keluar, makan bareng. Kebetulan keluarnya agak sorean dan malamnya jam 7 ada jadwal ngajar di lab. Sebenarnya kalau nuruti keinginan pribadi, saya milih lebih lama ketemu si manyun. Tapi karena ini kewajiban, maka harus segera balik ke lab.

Pernah juga ketika skill based assignment ada seorang peserta yang pekerjaan paket trcacertnya tidak beranjak sama sekali dari angka semula. Blas, dia sama sekali gak ada ide mau ngonfig itu router seperti apa. Bengong geje, sama seperti saya ketika ujian SKD. hahaha. Lalu saya tawarkan ke dia untuk saya ajari secara personal, barangkali dia bisa menyerap lebih. Ya, tentu akhirnya saya harus menyediakan waktu extra untuk ngasih “private” belajar buat satu peserta ini. Kasus yang sama terjadi dengan bapak-bapak mahasiswa STTAL yang ikut academy di lab. Karena tugas mendadak, apel, dan berbagai “army stuff” lainnya mereka sering tidak bisa bergabung dalam kelas. Salah saya? tentu bukan. jadi sebenarnya secara moral saya sudah tidak punya tanggung jawab apa-apa atas ketidakhadiran mereka. Tapi tidak bisa seperti itu, saya harus apresiasi kesungguhan mereka. Tentunya tidak mudah menjalankan tugas sebagai tentara dan masih tertarik dengan pelatihan jaringan. Maka saya alokasikan waktu sendiri untuk mengajar mereka bertiga. Bahkan bukan cuma sekali, tapi beberapa kali karena memang mereka ketinggalan cukup banyak chapter. Ya, ternyata mengajar tidak sesederhana itu kan? Kalau dalam pendekatan rumus matematika, kalau semua variabel itu dipenuhi, maka akan rumit. menjadi sesederhana itu karena banya variabel yang diabaikan. Menjadi sesederhana itu pula dalam mengajar jika transfer ilmunya diabaikan dan hanya variabel gugurnya kewajiban saja yang dihitung.

Well, sebenarnya malam ini tiba-tiba pengen nulis ini karena kondisinya besok saya harus mengajar. Jam 9 pagi. Saya sudah janji mau membuatkan materi praktek yang lebih mudah dipahami daripada materi yang ada di modul. Tapi sampai jam segini belum juga bikin. hahaha. Dan, besok tanggal merah. Damn!

Anggap saja ini latihan kalau-kalau besok punya anak, kan bisa bantu-bantu istri ngajar anak. wkwkwkw. istri aja belum punya udah mikir anak. Ro, siro.. geje.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *