Tentang Akal

Manusia adalah setengah hewan dan setengah malaikat. Variabel pengontrolnya adalah akal dan nafsu. Akal menunjukkan kepada apa yang ia inginkan, sedangkan nafsu membuatnya tak pernah merasa puas dengan apa yang telah dicapai, dan pikiran berjalan diantara akal dan nafsu. Kadar keduanya tidak selalu konstan, bergerak berubah pada domain waktu dan berubah menurut kadar keimanan. Hati dan pikiran ini selalu mudah dibolak-balikkan antara berpihak pada nafsu atau pada akal. Wahai Engkau yang Maha mebolak-balikkan hati, tetapkanlah kalbu kami kepada agamamu. Yaa muqollibal Quluub, tsabbit qolbi alaa diinika.

al-aqlu
Ada sebuah lagu bagus dari qosidah Langitan, Judulnya Al-Aqlu. Saya hafal lagu ini karena dulu Bapak saya suka sekali memutar album Langitan ini. Berikut terjemahan lagu tersebut dalam bahasa Indonesia:

Akal
Akal menunjukkan apa yang ia kehendaki
Nafsu selalu berkata apakah masih ada tambahan
Fikiran berjalan antara nafsu dan akal
Baik pada waktu celaka maupun bahagia
Akal mengantarkan pada syurga sedangkan
Nafsu bagaikan neraka jahanam

Ketika ia mendapat kenikmatan selalu saja kurang
Dan berkata “apakah masih ada yang lain?”
Aku berbekal hikmah dan keterangan dari Al-Qur’an
Kupasrahkan diriku kepada Allah Ar-Rahman
Maka aku terhindar dari segala kesulitan

Al-qur’an petunjuk Rasul bagi orang yang berakal
yang mengalahkan hawa nafsu
Ketahuilah hawa nafsu itu tidak dapat dipercaya
Shalawat dan salam semoga tetap tercurahkan
Kepada rasul sebagai rahmat bagi seluruh alam
Yang menunjukkan manusia dari gelapnya kebodohan
Denga perantara Al-Qu’an yang agung.

Ada sebuah quote yang sangat saya suka tentang perpaduan akal dan nafsu pada manusia. “Selama kombinasinya masih dapat diterima,buat saya orang tersebut OK2 saja” (NDP, 2012). Yah, karena kita tidak mengkin mencari mahluk sempurna, bukan?

2 thoughts on “Tentang Akal”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *