Tetaplah Berpramuka, Dik!

Menjadi kader pramuka di era serba galau ini mungkin sesulit mempertahankan keprawanan. Banyak sekali godaan yang membuat para pelajar “ngepir” mengikuti kegiatan pramuka. Image jadul yang tersemat, stagnansi perkembangan pramuka itu sendiri, dan hilangnya perhatian dari pemerintah terhadap gerakan praja muda karana ini.

Tidak percaya kalau menjadi kader pramuka di era galau itu susah? Biar saya hasut anda.

Saya sangat yakin jawaban pembaca akan satu suara untuk pertanyaan ini: Apa yang sedang ngetrend di kalangan pemuda saat ini?? Tidak perlu diberitahu, biar saya tebak… Boyband and Girl Band. Melesetpun tebakan saya pasti anda menyebut merek. Semacam SmaSH, CherryBelle, atau GirlBand Berjilbab Asal kota pudak tercinta, SUNNI.

Demam ini bahkan ikutan melanda salah seorang kader pramuka kebanggaan kabupaten gresik. Pak bupati. Ya, bapak satu ini dulu namanya sempat dibesarkan oleh pramuka. Saat pramuka masih menjadi komoditi menarik, Tentunya. Bapak satu ini terlihat getol sekali mendukung girlband berjilbab asal sidayu, kecamatan yang bersebelahan dengan kecamatan rumah saya. Bungah. Bahkan sekali saya pernah melihat bapak ini naik pentas saat saya menonton siara ulang final BGBI (jangan berfikir jorok dulu, saya terpaksa nonton karena dirumah hanya ada satu tivi dan ibunda tercinta sedang menontonnya).

Eh, lalu apa hubungannya dengan beratnya bertahan di pramuka di era galau ini?? Dari cerita adik-adik di SMANSA yang mencoba “mengemis” ke pak bupati, mereka tidak mendapatkan sepeser uangpun dari bupati yang katanya “kader pramuka” itu. Berbeda dengan jaman ketika saya mengemis saat beliau masih menjadi wakil bupati di era Mbah robbah, saat itu saya dan kawan-kawan disumbang 500 ribu. Lumayan.

Masih dari cerita adik-adik. Pakpati (versi cowok dari bupati 😛 ) sedang banyak kegiatan diluar, sehingga kehabisan dana untuk menyumbang kegiatan kepramukaan yang kami laksanakan. Salah seorang teman berkelakar: “Bupatine duite entek digawe sms sunni mas” lalu ada yang menambahkan “Iyo, melu galau bupatine, mosok dadi managere sunni barang”. Yah, namanya juga kelakar, tidak perlu ditanggapi dengan serius. Apalagi sampai menyernyitkan dahi.

Ah, entahlah. Apakah sesusah itu bertahan menjadi kader pramuka di era galau. Bahkan untuk seorang bapak yang notabene sempat “mengendarai” pramuka ini. Entahlah.. Saya belum pernah tergoda sedahsyat itu. Saya masih cukup jadul untuk meninggalkan pramuka. Saya masih sangat ndeso dan kurang pantas meninggalkan pramuka. Sehingga saya masih peduli. Meskipun sedikit.

Secara pribadi saya merasakan dampak positif mengikuti pramuka. Mengajarkan saya percaya diri berbicara didepan umum, mengajarkan saya rasa dari sebuah kekalahan saat berkompetisi, mengajarkan saya manisnya kemenangan, dan arti teman.

Kalo boleh macak filsuf, saya akan berpendapat seperti ini: “yang akan kita kenang di masa depan bukanlah sesuatu yang kita kendarai, tapi lebih kepada sesuatu yang kita dorong” Bagi saya ikut berjuang menghidupi adanya pramuka meninggalkan satu kenangan tersendiri. Disamping kenangan-kenangan lain seperti dengan wanita, tentunya. hahahahaha

Mengutip kata raditya dika, fase hidup manusia indonesia akan selalu melewati masa alay (bayi, balita, remaja, ALAY, Dewasa) dan alay adalah sebuah proses pendewasaan, maka kepada adik-adikku yang sedang pada fase alay, fase galau, TETAPLAH di PRAMUKA!! Tak apa menjadi pramuka galau, pramuka alay, pramuka gaul!! jadi, semestinya tingkatan di pramuka perlu di sesuaikan. Siaga, penggalang, pramuka alay, penegak (kadang masih alay) dan pendega (kebacut kalo masih alay). just kidding. only my two cent.

____

ditulis ketika saya sedang sendirian menjaga tas dan barang2 panitia The Scout Expedition 2012. Sedang acara BGBP (boy girl band pramuka) di Aula sunan giri, SMAN 1 Gresik.

ps: pak bupati pasti nyesel gak ngasih dana. disini ada girlband berjilbab juga lho pak, anak2 smp. hehehehe

4 thoughts on “Tetaplah Berpramuka, Dik!”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *